WKM Akademik MAN Tanjungbalai Resmi Buka MATAMUDA TP. 2026/2027, Tegaskan Orientasi Tanpa Bullying
Tanjungbalai (Humas). Wakil Kepala MAN Tanjungbalai bidang Akademik, Muhammad Hifni, M.Pd., secara resmi membuka kegiatan Masa Ta’aruf Murid Baru (MATAMUDA) untuk Tahun Pelajaran 2026/2027. Acara pembukaan dan orientasi yang diikuti oleh ratusan peserta didik baru kelas X ini dipusatkan di lapangan utama madrasah dengan penuh khidmat, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan MATAMUDA ini digelar sebagai gerbang awal untuk mengenalkan kultur lingkungan madrasah, sistem pembelajaran Kurikulum Merdeka, tata tertib, hingga sarana prasarana digital yang dimiliki MAN Tanjungbalai. Namun, ada yang berbeda pada pelaksanaan tahun ini, di mana pihak manajemen madrasah menerapkan pengawasan ketat terhadap pencegahan segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.
Dalam arahannya, WKM Akademik memberikan penegasan moral yang sangat keras dan deklaratif. Beliau menegaskan bahwa MAN Tanjungbalai mengharamkan segala bentuk perundungan (bullying) baik secara fisik, verbal, maupun siber, serta meneguhkan fungsi senioritas yang positif sebagai pelindung dan pembimbing, bukan sebagai sarana penindasan siswa baru.
“Hari ini, di pembukaan MATAMUDA TP. 2026/2027, saya tegaskan dengan sangat keras bahwa MAN Tanjungbalai adalah kawasan ramah anak yang bebas dari bullying. Tidak ada tempat bagi kekerasan di madrasah ini. Kita juga meneguhkan kembali makna senioritas yang sesungguhnya. Senioritas di madrasah ini wajib menjadi teladan, pengayom, dan pembimbing yang merangkul adik-adik kelasnya, bukan menjadi alat untuk ajang pamer kekuasaan atau balas dendam,” ujar WKM Akademik dengan nada tegas yang disambut tepuk tangan riuh.
Kepala MAN Tanjungbalai mendukung penuh ketegasan yang disampaikan oleh WKM Akademik demi menjaga iklim belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. Upacara pembukaan ditandai dengan penyematan tanda peserta secara simbolis dan pelepasan balon ke udara sebagai simbol komitmen bersama mewujudkan madrasah yang unggul, berkarakter Islami, dan bebas dari kekerasan. (Muhammad Amri Pasaribu)
