Sehelai Tangkai Bale dan Untaian Doa Pererat Kekeluargaan di MAN Tanjungbalai
Tanjungbalai (Humas). Suasana penuh haru dan kekeluargaan menyelimuti ruang pertemuan Madrasah Aliyah Negeri Tanjungbalai. Keluarga besar madrasah menggelar acara syukuran sekaligus tradisi adat upah-upah sebagai bentuk penghormatan dan dukungan bagi salah seorang guru yang akan segera menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah, Jumat (24/4/2026).
Di balik riuh rendahnya aktivitas akademik dan hiruk-pikuk transformasi digital di MAN Tanjungbalai, terselip sebuah momen yang mampu menghentikan waktu sejenak. Hari itu, udara di madrasah terasa lebih hangat, bukan karena terik matahari Kota Tanjungbalai, melainkan karena getaran kasih sayang yang tulus.
Di tengah rumah nan jauh dibalai kota, berdiri sehelai tangkai Bale. Hiasan pulut kuning dan telur merah yang terangkai indah itu bukan sekadar pajangan tradisi. Ia adalah simbol doa yang membeku, sebuah penghormatan dari keluarga besar madrasah untuk salah satu gurunya yang akan segera melangkah menuju Baitullah.
Kepala MAN Tanjungbalai, Khoirul Amri Hasibuan, S.Pd., M.Pd., berdiri menatap tangkai bale tersebut dengan mata yang berkaca-kaca. Baginya, kegiatan upah-upah ini adalah potret nyata bahwa madrasah ini adalah sebuah rumah besar.
“Di setiap butir pulut kuning ini, terselip harapan kami. Di balik setiap untaian benang pada tangkai ini, tertitip doa keselamatan,” ucap beliau perlahan.
Suasana menjadi syahdu saat prosesi upah-upah dimulai. Satu per satu rekan sejawat mendekat, memberikan semangat batin atau upah-upah tondi. Tidak ada sekat antara pimpinan dan bawahan; yang ada hanyalah jalinan kekeluargaan yang erat. Ilmu mungkin bisa disampaikan lewat layar digital, namun sentuhan doa dan pelukan persaudaraan hanya bisa dirasakan lewat kehadiran hati.
Kisah ini menjadi pengingat bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan bahwa setinggi apa pun prestasi yang diraih, karakter luhur dan penghormatan terhadap sesama adalah akar yang menjaga kita tetap tegak. Sehelai tangkai bale itu telah menjadi saksi bahwa di MAN Tanjungbalai, ilmu dicari dengan akal, namun kekeluargaan dibangun dengan jiwa.
Guru yang akan berangkat haji itu tersenyum dalam haru. Ia berangkat tidak hanya membawa koper perbekalan, tapi membawa bekal doa yang tak terhingga dari tempatnya mengabdi. Inilah esensi sejati sebuah madrasah: tempat di mana setiap pencapaian dirayakan bersama, dan setiap langkah suci diantar dengan doa yang paling tulus. (Muhammad Amri Pasaribu)
