HumasNews

21 Tahun Mengabdi Tanpa Henti, Kisah Inspiratif Syafri Daulay, Sosok Rendah Hati Sang Pelita di MAN Tanjungbalai

Tanjungbalai (Humas). Di lorong-lorong Madrasah Aliyah Negeri Tanjungbalai, nama Syafri Daulay bukan sekadar nama seorang ASN, melainkan simbol dedikasi dan kearifan yang telah terpahat selama 21 tahun.

Perjalanan panjang pengabdiannya yang melintasi berbagai peran mulai dari guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, Kepala Madrasah yang memimpin perubahan, hingga Pengawas Madrasah yang mengawal mutu Pendidikan telah menjadikannya perpustakaan berjalan bagi dunia pendidikan di Kota Tanjungbalai.

Syafri Daulay dikenal oleh rekan sejawat dan seluruh civitas akademika sebagai sosok yang sangat rendah hati. Meski telah menduduki berbagai jabatan strategis, ia tak pernah membatasi diri untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada para guru muda. Baginya, setiap pengalaman adalah pelajaran yang harus disalurkan demi kemajuan madrasah.

“Beliau adalah teladan nyata. Nasihat-nasihatnya selalu menyejukkan karena disampaikan dengan cara yang sangat santun dan sopan,” ungkap salah seorang rekan guru di MAN Tanjungbalai. Karakter inilah yang membuatnya begitu disegani bukan karena jabatan yang pernah diembannya, melainkan karena kewibawaan akhlak yang senantiasa ia tunjukkan kepada siapa pun, tanpa memandang status sosial.

Selama masa pengabdiannya, Syafri Daulay telah banyak memberikan warna pada transformasi pendidikan di madrasah. Sebagai mantan Kepala Madrasah, ia memahami betul dinamika kepemimpinan, sementara perannya sebagai Pengawas memberinya perspektif luas dalam pembinaan karakter dan disiplin ASN.

Kepala MAN Tanjungbalai, Khoirul Amri Hasibuan, S.Pd., M.Pd., seringkali menjadikan pengalaman Syafri sebagai referensi dalam mengambil kebijakan. Sinergi antara kearifan senior dan semangat inovasi masa kini menjadi kunci MAN Tanjungbalai dalam meraih berbagai capaian, termasuk keberhasilan 37 siswa lulus SNBP 2026.

Kisah 21 tahun pengabdian Syafri Daulay mengajarkan satu hal penting bagi seluruh civitas akademika, bahwa jabatan bisa silih berganti, namun jejak kebaikan dan sikap santun akan selalu dikenang sepanjang masa. Ia adalah bukti nyata bahwa menjadi hebat tidak harus tinggi hati, dan menjadi berilmu haruslah dibarengi dengan adab yang sempurna. (Muhammad Amri Pasaribu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *